01 Mei 2013

LAND APPLICATION mengurangi biaya pemupukan secara signifikan

LAND APPLICATION

Pemanfaatan Limbah Cair PKS sebagai Pupuk Alternatif 

Industri kelapa sawit merupakan salah satu industri strategis yang bergerak pada sektor pertanian (Agro-Based Industry) yang banyak berkembang di negara-negara tropis seperti Indonesia, Malaysia dan Thailand.  Proses pengolahan tandan buah segar (TBS) di pabrik pengolahan kelapa sawit (PKS) selain menghasilkan produk utama berupa minyak sawit mentah (CPO) dan inti sawit (kernel) juga menghasilkan limbah baik padat, cair maupun gas. Limbah cair PKS (efluen) dihasilkan dalam volume yang sangat besar yaitu 50 - 60 % dari tonase TBS diolah.

Pemerintah secara prinsip mewajibkan kepada setiap badan usaha atau industri untuk mengelola limbah yang dihasilkannya agar tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Hal ini tercermin dalam bentuk peraturan perundangan yang berlaku antara lain Undang-undang Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Peraturan Pemeritah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air, Pengendalian Pencemaran Air .

Ada beberapa pilihan dalam pengelolaan limbah cair PKS setelah diolah di kolam pengelolaan limbah (IPAL) diantaranya adalah dibuang ke badan sungai atau diaplikasikan ke areal tanaman kelapa sawit yang dikenal dengan land application. Pembuangan limbah cair ke badan sungai bisa dilakukan dengan syarat telah memenuhi baku mutu yang ditetapkan oleh peraturan perundangan. Alternatif ini mempunyai beberapa kelemahan diantaranya:
         Pengelolaan limbah cair sehingga menjadi layak dibuang ke badan sungai (BOD dibawah  100 ppm ), secara teknis bisa dilakukan tetapi memerlukan biaya dan teknologi yang tinggi di samping waktu retensi efluen yang panjang di kolam-kolam pengelolaan.
         Tidak ada nilai tambah baik bagi lingkungan maupun bagi perusahaan.
         Merupakan potensi sumber konflik oleh masyarakat karena perusahaan dianggap membuang limbahnya ke badan sungai adalah berbahaya walaupun limbah tersebut mempunyai BOD di bawah 100 ppm.
Gambar 1. Keuntungan penerapan Land Application 
Model alternatif lainnya dalam pengelolaan efluen adalah dengan mengaplikasikan ke areal pertanaman kelapa sawit (land application), sebagai sumber pupuk dan air irigasi. Banyak lembaga penelitian yang melaporkan bahwa efluen yang bersumber dari limbah cair Pabrik Kelapa Sawit masih banyak mengandung unsur hara yang sangat bermanfaat dan dibutuhkan oleh tanaman (sawit ataupun komoditas pertanian lainnya). Potensi ini menjadi semakin penting artinya bagi managemen perusahaan ataupun perorangan, mengingat harga pupuk  kimia yang terus  meningkat tajam serta kerap terjadinya pergeseran iklim yang tidak menentu. 

Pemanfaatan limbah cair yang bersala dari Pabrik Kelapa Sawit (PKS) melalui sistem land application telah menjadi bagian dari kebijakan managemen yang banyak dilakukan di perkebunan-perkebunan  besar dengan hasil yang baik, yaitu dapat meningkatkan produksi kelapa sawit dan kesehatan tanaman tanpa menimbulkan dampak negatif  yang berarti terhadap lingkungan .

Kolam anaerobic adalah bagian dari pengolahan limbah cair kelapa sawit dengan system facultative. Kolam ini berfungsi untuk menguraikan zat-zat organik yang terkandung dalam limbah cair. Sistem penguraian menggunakan koloni bakteri (massa mikroba) yang terdapat dalam lumpur organik. Proses ini diharapkan mampu menurunkan COD hingga 70% sehingga kandungan lumpur aktifnya berkisar 25% - 30%.

Pada kolam ini, proses anaerobik berjalan secara terus menerus. Limbah cair kemudian di pompa sebagai pupuk ke kebun kelapa sawit. Sistem ini disebut land application system. Jika proses ini berjalan dengan baik, kemungkinan dapat memberi keuntungan bagi pabrik atau perusahaan karena dapat menghemat penggunaan pupuk, waktu, biaya dan tenaga.

Gambar 2. Model Land Application pada Perkebunan Kelapa Sawit

Beberapa hasil penelitian pada areal perkebunan sawit menunjukkan bahwa aplikasi Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit dengan Biological Oxygen Demand (BOD) dalam kisaran 3.500-5.000 mg/l dapat memperbaiki beberapa sifat kimia tanah mineral masam (Ultisol) di sekitar flatbed atau rorak (yang berada di antara dua gawangan pokok sawit), seperti peningkatan pH, ketersediaan kation-kation K (kalium), Ca (kalsium), dan Mg (magnesium), Kapasitas Tukar Kation (KTK), bahan organik tanah, hara N, dan P (Honim, 2006) dan peningkatan tersebut sejalan dengan waktu dan frekuensi pemberian (Manik, 2000) serta peningkatan pemberian dosis LCPKS (Ermadani dan Arsyad, 2007).

Hasil penelitian Siregar dan Tony Liwang (2001), Ali Muzar (2006), dan Budianta (2007) menunjukkan bahwa aplikasi hasil olahan Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit secara nyata  memberikan responsyang relatif sama baiknya dengan aplikasi pupuk anorganik terhadap status hara daun. Menurut Loebis dan Tobing (1989) limbah cair pabrik pengolahan kelapa sawit mengandung unsur hara yang tinggi seperti N (nitrogen), P (phospat), K (kalium), Mg (magnesium), dan Ca (kalsium), sehingga limbah cair tersebut berpeluang untuk digunakan sebagai sumber hara bagi tanaman kelapa sawit, di samping memberikan kelembaban tanah, juga dapat meningkatkan sifat fisik–kimia tanah, serta dapat meningkatkan status hara tanah.

Keuntungan penggunaan limbah cair untuk pertanian dan perkebunan antara lain mencegah pencemaran sungai, memberikan unsur pupuk pada tanaman, dapat memperbaiki struktur tanah (soil conditioning), dan dapat dimanfaatkan untuk lahan yang cukup luas.

Aplikasi Land Application

Pemanfaatan hasil olahan limbah pabrik kelapa sawit tersebut dapat dilakukan dengan memproses air limbah di tingkat kolam primary anaerobic ataupun aerobic dengan menambahkan mikroorganisme pendegradasi organik (bioremediator) ke dalam kolam limbah selama beberapa hari (3-5 hari). Limbah cair kemudian dipompa sebagai pupuk ke kebun kelapa sawit. Sistem ini disebut system land application. 

Gambar 3. Proses pengolahan limbah cair PKS sebagai Land application

Proses pengolahan air limbah dengan penambahan mikroorganisme diperlukan untuk menurunkan tingkat BOD dari 25.000 mg/lt menjadi 3.000-5.000 mg/lt.,  serta memecah lemak dan menyederhanakan senyawa organik yang ada, agar menjadi unsur yang lebih tersedia bagi tanaman. Pada tingkat BOD 3.000-5.000 mg/lt tersebut air limbah dinilai tidak akan menimbulkan pencemaran terhadap air tanah disamping kandungan minyak dan zat padat terlarut telah dapat ditekan sehingga tidak menciptakan kondisi anaerobic yang dapat mengakibatkan kematian tanaman sawit (Palm Oil Mill Community, 2008). Sistem land application telah lama diterapkan di Malaysia, yaitu sejak akhir 1970 dan beberapa perkebunan besar di Indonesia.

Manfaat Penggunaan Limbah untuk Land Application
Disamping manfaat financial yang cukup tinggi yaitu sekitar Rp. 415 juta/tahun dari penghematan penggunaan pupuk dan peningkatan production TBS diperoleh pula manfaat dan segi lingkungan yaitu tidak adanya limbah yang dibuang ke sungai. Disamping itu tidak ada masih terdapat beberapa manfaat lainnya, seperti antara lain :

- Memperbaiki struktur tanah
- Meningkatkan pertumbuhan akar
- Meningkatkan kandungan bahan organic
- Memperbaiki PH tanah
- Meningkatkan daya resap air ke dalam tanah
- Meningkatkan kelembaban tanah
- Meningkatkan kapasitas pertukaran Anion dan Kation

Pengendalian Pengoperasian Land Applicatiuon
Walaupun manfaat land application cukup besar namun pemanfaatan limbah pabrik sawit ke kebun harus diawasi, penggawasannya berupa :
a. Limbah lebih dulu harus diolah dikolam primery anaerobic untuk menurunkan BOD 
    dari 25.000 mg/lt menjadi 3.000 –  5.000 mg/lt.
b. Dosis  (volume limbah) yang diaplikasikan setiap metoda harus sesuai dengan
    rekomendasi yang dituangkan.
c. Untuk mencukupi kebutuhan nutrient tanaman, diperlukan applikasi sebanyak 6 kali 
    dalam setahun dan disarankan setiap tahun berpindah lokasi.
d. Monitoring mengenai kandungan mineral tanahdan pencemaran air tanah harus 
    dilakukan secara berkala sekali setahun


Gambar 4. Alur Industri Hilir Perkebunan Kelapa Sawit

Poskan Komentar