22 Oktober 2008

BIOTEKNOLOGI HARAPAN ATAU BENCANA

Bioteknologi merupakan teknologi yang penerapannya menggunakan pemanfaatan organisme hidup atau produk-produk dari aktivitas organisme yg bertujuan untuk menghasilkan suatu yg berguna bagi kesejahteraan umat manusia dan lingkungannya. Pada dasarnya bioteknologi bukanlah suatu teknologi yg baru bagi peradaban manusia. Pembuatan tempe, kecap, oncom, tape, arak dan lain sebagainya di Indonesia telah lama berkembang, dengan memanfaatkan aktivitas jasad renik alami (Indigenous) yang berdasarkan hasil dan dampaknya lebih ramah dengan lingkungan.
Dewasa ini, bioteknologi (alami) tersebut mulai tergeser dengan "aroganism" manusia pada ilmu pengetahuan dan teknologi yg ingin merekayasa kehidupan ini dan bahkan cenderung berlomba mencapai batasan-batasan norma kehidupan dan kaidah-kaidah hukum alam .....adalah Bioteknologi rekayasa yg menjadi kebanggaan dengan janji akan membawa peradaban manusia yg lebih baik dan sempurna.
Kecenderungan suatu perubahan dasar siklus kehidupan ekologi (BIO-EKO) alami menjadi siklus rekayasa sebagai ajang lomba "patent" untuk memenuhi kebutuhan manusia, belumlah dapat digaransikan akan memberikan kesejahteraaan bagi umat di dunia. Hal tsb.harus disikapi secara arif dan kita bahas bersama dampak bioteknologi rekayasa pada resiko yg akan timbul dimasa datang, seperti dampak terhadap keanekaragaman hayati, lingkungan, sosial, ekonomi, budaya dan politik.
Sebagai Khalifah di muka bumi tidak seharusnya kita mengarahkan "akal" sebagai karunia-Nya (sebagai pembeda dengan makhluk lainnya,spt. binatang, tumbuhan, dsb), "mengakali" landasan kehidupan atau cenderung mengubah landasan penentu hidup dan kehidupan, seperti halnya mengubah tatanan gen sebagai spesifik suatu organisme, bahkan berupaya mengubah tatanan gen pada manusia, hewan dan tumbuhan, yg semuanya belum tentu dapat memenuhi harapan atau tujuan dari rekayasa itu sendiri. Hal-hal tsb. akan menambah keragaman hayati di muka bumi tanpa menilik kembali kemampuan daya dukung alam ini untuk menampungnya ...akankah terjadi kompetisi ruang, waktu dan bahan pokok organisme alami dengan organisme rekayasa ?

" Dari Kami telah menghamparkan buni dan dan menjadikan padanya gunung-gunung serta Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran". ( al-Hijr:19 ).

Pengembangan dan penerapan bioteknologi adalah tidak bertentangan dengan kaidah / norma kehidupan termasuk dalam ajaran agama manapun, dan pe
manfaatan bioteknologi yang sejalan dengan hukum alam, secara nyata telah memberikan manfaat yg besar bagi hidup dan kehidupan umat manusia dan lingkungannya. Disini terdapat terdapat penekanan bahwa bioteknologi bukanlah alat atau sarana untuk mengubah suatu siklus alami yang telah tercipta, namun sebagai wahana untuk umat manusia yang berfikir untuk melengkapi kebutuhan hidup dengan memanfaatkan, memperbaiki, mengembangkan, dan menjaga segala sesuatu di muka bumi bagi kepentingan umat manusia.

"Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam, kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkannya ?" ( al-Waaqi'ah: 63-64 )

" Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu sekali-sekali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya...?" ( al-Naml: 19 )

Pengalaman perjalanan teknologi umat di muka bumi, dengan dimulainya revolusi industri, revolusi hijau dan satu atau dua dekade terakhir adalah revolusi bioteknologi, telah cukup memberikan banyak pelajaran dalam menganalisa dampak suatu hasil kerja yang dilakukan tanpa keselarasan dengan alam. Hal tersebut memberikan motivasi dan tekad bagi sebagian pemerhati, praktisi dan peneliti untuk mulai mengkonsentrasikan diri pada pengembangan dan penerapan berbagai teknologi kehidupan ( bioteknologi ) yang bersifat alamiah dan tanpa rekayasa, dalam artian bagaimana kita memanfaatkan organisme indigenous (alami) mikroba, yang kemudian menseleksi efektifitasnya, dan selanjutnya mengembangkannya serta mengembalikan kepada alam sesuai dengan kehendak dan tujuan. Hal tersebut merupakan cara bagaimana kita menjaga populasi mikroorganisme yang alami dan sesuai dengan peruntukkannya.
Peran serta masyarakat dan penentu /pengambil kebijakan dalam upaya menjaga dan mengembangkan keanekaragaman hayati sangat dibutuhkan, hal ini bukan semata-mata ada kepentingan atau oleh sekelompok orang/organisasi, namun lebih jauh untuk menjaga / mempertahankan keseimbangan ekosistem alami dengan keragaman organisme dari pergeseran (penjajahan total) akibat arus bioteknologi (rekombinan) yang belum kita ketahui dampaknya untuk masa yang akan datang terhadap keberlanjutan umat manusia dan alam ini.
Demikianlah ulasan ini kami tujukan kepada seluruh umat manusia umumnya, dan masyarakat Indonesia khususnya untuk bersama-sama menuju pembangunan ekonomi bangsa melalui penempatan bioteknologi (teknologi hidup) secara arif dan bijaksana....
Terimakasih...... ( Jak,01-Nov-'99)


a

Poskan Komentar